
FinancialDNA.id –Krisis manajemen bukan sekadar kegagalan pengelolaan, tapi cermin dari keseluruhan sistem — mulai dari keuangan, SDM, operasional, hingga strategi pasar. Saat terjadi krisis, semua titik lemah yang selama ini tersembunyi biasanya akan tampak dengan jelas.
Dari Krisis Menuju Evaluasi: Framework Sederhana
1. Mana yang Harus DIPERBAIKI?
Lihat proses yang masih jalan tapi tidak efisien.
Contoh: Proses distribusi lambat → evaluasi jalur supply chain.
2. Mana yang Harus DIPOTONG?
Identifikasi beban biaya tidak produktif.
Contoh: Pos pengeluaran marketing yang tidak menghasilkan konversi → potong.
3. Mana yang Harus DIREDUKSI?
Kurangi intensitas atau skala pada hal yang belum relevan dengan core business.
Contoh: Tim proyek pengembangan produk baru yang belum prioritas → reduksi jam kerja atau anggaran.
4. Mana yang Bisa DIDONGKRAK?
Temukan unit usaha atau produk yang punya performa baik dan potensial.
Contoh: Penjualan produk X meningkat 30% selama 3 bulan terakhir → dongkrak stok & promosi.
5. Mana yang Harus DIPERTAHANKAN?
Identifikasi kekuatan inti (core strength) dan stabilkan.
Contoh: Sistem pelayanan pelanggan yang solid → pertahankan SOP dan SDM-nya.
⚠️ Catatan Kritis:
Jangan menunggu sampai krisis menjadi parah. Krisis kecil adalah alarm awal. Pengusaha cerdas justru menggunakannya sebagai alat kontrol dinamis untuk:
- Menyusun ulang prioritas
- Menguji daya tahan tim
- Mencari efisiensi struktural
- Mengukur daya adaptasi terhadap perubahan pasar
“Krisis bukan musuh bisnis, tapi kompas untuk pembenahan total.”
